tanggal

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, June 12, 2015

Budaya Sunda

    Kali ini saya akan share tentang budaya sunda, tapi sebelum saya membahas tentang budaya sunda saya akan sedikit mengungkapkan apa yang ada di benak pikiranku. Terkadang saya menilai tentang kehidupan pada zaman modern saat ini, saya sangat menyayangkan akan banyak beredar berita tentang budaya khususnya budaya indonesia yang di akui oleh negara lain, saya sendiri menyadari bahwa saya selaku anak indonesia penerus bangsa masih kurang memperdulikan budaya, jangankan budaya yang ada di indonesia yang sangat banyak dan kaya akan budayana, budaya saya sendiri yakni budaya sunda jga masih kurang di perhatikan dan di pelajari. bahkan anak anak yang asli lahir di lingkungannya pun tidak mengetahui budayanya sendiri. Nahh itu lah yang harus kita pikirkan bagaimana untuk bisa menjaga dan melestarikan budaya kita sendiri. Disini saya akan Berbagi tentang budaya saya sendiri, sebagai tanda saya cinta dan bangga akan budaya SUNDA.

    Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.


Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.
           Budaya Sunda, dikenal sebagai budaya yang menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya budaya Sunda memiliki karakter ramah, mudah senyum, sopan, lembut dan sangat hormat kepada orang tua. Didalam budaya Sunda, mereka diajarkan bagaimana berbicara lembut terhadap orang yang lebih tua.


Kebudayaan Sunda merupakan salah satu budaya tertua yang ada di nusantara, Sistem kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang mengajarkan keselarasan hidup dengan alam.  Terdapat beberapa ajaran budaya Sunda tentang jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter, yang dapat diartikan “sembuh” (waras), baik, sehat (kuat), dan cerdas.
Kebudayaan Sunda memiliki macam-macam seni dan budaya, diantaranya:

1. Wayang Golek
Wayang Golek yaitu merupakan semacam boneka yang terbuat dari kayu yang ditampilkan dan membawakan alur cerita bersejarah. Wayang Golek ini dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang biasa disebut Degung.
















 
2.Degung
   Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar pada akhir abad ke-18 atau pada awal abad ke-19. Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/ awal abad ke 19 Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat) Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat). Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, Kerajaan Galuhmisalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.
     Kesenian Degung biasanya digunakan untuk musik pengiring/pengantar. Degung ini merupakan gabungan dari peralatan khas kesenian Jawa Barat yaitu, gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya.
















3. Kuda Renggong
Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat diKabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kudaatau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut,Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.













 



4.Jaipong 
     Merupakan tarian khas Jawa Barat yang di mainkan oleh satu orang atau lebih. Penarinya pun menggunakan pakaian khas Jawa Barat. Tari ini di ciptakan pada tahun 1960 oleh seorang seniman asal Bandung yang bernama Gugum Gumbira.


 











 

5.Rampak Kendang 
    Rampak Gendang ini adalah permainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang.
 













 
6.Angklung 
    Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional.



7. Pencak Silat 
    Pada awalnya pencak Silat ini merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pencak silat dimainkan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang diikatkan dipinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya iket.



8. Sisingaan 
      Sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah Subang Jawa barat. Kesenian ini ditampilkan dengan cara menggotong patung yang berbentuk seperti singa yang ditunggangi oleh anak kecil dan digotong oleh empat orang serta diiringi oleh tabuhan gendang dan terompet. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara peringatan hari-hari bersejarah.







Klick HERE
Watch Video







 

    oke itu merupakan beberapa kesenian budaya Sunda dan masih banyak lagi yang lainnya, pada intinya hendak kita selalu mencintai budaya kita sendiri, meskipun di zaman modern sekarang banyal hal hal yang membuat kita terlena, terutama di dalam dunia teknologi dan fashion. kita boleh mengikuti jaman karena tidak mungkin zaman mengikuti kita, tetapi kita harus ingat akan dari mana kita lahir, maksudnya kita harus tetap mencintai dan melestarikan budaya kita sendiri kalau bukan kita trus siapa lagi.. iya gak.
oke sedikit saya akan berbagi serangkaian kata kata yang apabila kita pelajari dan kita amalkan pasti kata kata tersebuat akan menjadi sebuah ilmu, yang akan saya bagikan yakni Cara Melestarikan Budaya silahkan pelajari dan baca secara seksama. Cara melestarikan Budaya yakni ada 2 cara yaitu culture experience, dan culture knowledge


1. culture experience
    culture experience adalah pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung. seperti contoh masyarakat dianjurkan mempelajari tarian daerah dengan baik. agar dalam setiap tahunnya tarian ini dapat di tampilkan dan diperkenalkan pada khalayak dengan demikian selain dapat melestarikan budaya kita juga dapat meemperkenalkan kebudayaan kita pada orang banyak.


2. culture knowledge
    culture knowladge merupakan pelestarian budaya dengan cara membuat pusat informasi kebudayaan. sehingga mempermudah seseorang untuk mencari tahu tentang kebudayaan. selain itu cara ini dapat menjadi sarana edukasi bagi para pelajar dan dapat pula menjadi sarana wisata bagi para wisatawan yang ingin mencari tahu serta ingin berkunjung ke indonesia dengan mendapatkan informasi dari pusat informasi kebudayaan tersebut. 


selain 2 hal tersebut kita juga dapat melestarikan kebudayaan dengan cara sederhana berikut:


a. meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam memajukan budaya lokal.
b. lebih mendorong kita untuk memaksimalkan potensi budaya lokal beserta pemberdayaan dan pelestariannya.
c. berusaha menghidupkan kemballi semangat toleransi kekeluargaan, keramah-tamahan dan solidaritas yang tinggi.
d. selalu mempertahankan budaya indonesia agar tidak punah.
e. mengusahakan agar semua orang mampu mengelola keanekaragaman budaya lokal. oleh sebab itu kita sebagai warga indonesia sudah seharusnya berbangga dengan jutaan keindahan alam serta keanekaragaman budaya yang kita miliki. dan sudah sepatutnya kita melestarikan kebudayaan ini agar terus berkembang dan dapat di perkenalkan kepada seluruh dunia agar tidak ada peng-klaiman dari negara asing yang mengakui kebudayaan indonesia sebagai kebudayaannya. 



Oke semoga Bermanfaat,, Hatur Nuhun..
 

Monday, June 8, 2015

sunda is the best


Tapi nggak cuma itu saja, banyak hal lain yang belum banyak orang tahu tentang Urang Sunda! Ada yang bilang kalau Orang Sunda itu pemalas, matre, dan cuma jago kandang. Padahal nggak gitu juga, lho! Biar kamu nggak salah sangka lagi, kamu wajib tahu gimana sih ‘Nyunda’-nya urang-urang Sunda itu? Hayuk yuk disimak!

1. Saat orang tahu kamu adalah Orang Sunda, mereka pasti bilang kamu kasep atau geulis..


Mojang Jajaka sunda nih!
Mojang Jajaka sunda nih! via showbiz.liputan6.com
Kamu udah kebal banget dengan pujian yang satu ini. Buatmu pujian cantik dan ganteng ini udah nggak berasa spesial lagi — udah biasa banget!
Meskipun wajahmu nggak setampan Raffi Ahmad atau secantik Laudya Cynthia Bella, saat pertama kali bertemu dengan orang baru dari daeran lain, kamu pasti bakal dibilang kasep/ geulis! Tapi bagaimanapun juga, ini adalah salah satu keuntungan jadi ‘Urang Sunda’. Tanpa adanya pemaksaan, orang-orang dengan sendirinya akan memanggilmu cantik atau tampan!

2. Selain sering dibilang geulis dan kasep, Urang Sunda juga terkenal ramah dan murah senyum


Geulis, kasep, someah... kurang apa lagi?
Geulis, kasep, someah… kurang apa lagi? via citizenmagz.com
Orang Sunda terkenal ramah dan murah senyum kepada orang lain. Mereka nggak akan ragu-ragu utuk melempar senyuman pada orang-orang yang baru mereka kenal, saking murah senyumnya, mereka akan senyum ke siapapun meskipun sebenarnya dia nggak suka dengan orang tersebut. Heuuheuuheuu…

3. Banyak yang nyangka kalau Orang Sunda itu kulitnya putih-putih dan mulus kayak artis-artis…


Teteh Syahrini mah udah pasti putih mulus atuh...
Teteh Syahrini mah udah pasti putih mulus atuh… via www.kaskus.co.id
Banyak yang bilang kalau orang sunda itu pasti kulitnya putih-putih dan mulus-mulus. Padahal nggak semua orang sunda punya kulita putih dan mulus. Mungkin karena banyak artis-artis berdarah Sunda yang berkulit putih dan mulus, sehingga anggapan ini melekat pada Orang Sunda. Sebut saja Teteh Syahrini..
Padahal nggak semua Orang Sunda berkulit putih lho, banyak juga Orang Sunda yang berkulit sawo matang, seperti Shanty dan Sarah Sechan. Manis dan pastinya tetep geulis! Sunda tea!

3. Walaupun wajahmu nggak menunjukkan identitasmu sebagai Urang Sunda, tapi saat kamu berbicara orang akan langsung tahu kalau kamu Urang Sunda!


Ketahuan sundanya..
Ketahuan sundanya.. via www.djarumfoundation.org
Seringkali, orang memang sering menilai daerah asal seseorang dari wajah dan penampilan fisiknya. Jika kamu tidak termasuk dalam ciri-ciri fisik orang sunda, seperti kasep, geulis atau putih, orang-orang tidak menyangka kalau kamu adalah Orang Sunda.
Tapi setelah kamu memulai berbicara, orang akan tahu kalau kamu adalah Orang Sunda! Seperti halnya Wong Jowo yang kental dengan logat medhoknya, orang sunda pun medok dengan logat dan cengkok sundanya yang khas!

4. Sebagai Orang Sunda yang ‘nyunda pisan’, kamu nggak akan bisa lepas dari “mah, teh, nya, da, atuh, ceunah, sok.


Da aku mah apa atuh cuma butiran ranginang
Da aku mah apa atuh cuma butiran ranginang via www.keepcalm-o-matic.co.uk
Kemanapun kamu pergi, dengan siapapun kamu berbicara, kamu pasti nggak akan bisa lepas dari “mah, teh, nya, da, atuh, ceunah, dan sok”. Sepertinya lidah Orang Sunda memang sudah terpatri degan kata-kata khas Sunda itu. Kalau ngobrol nggak pakai kata-kata penghubung itu, bagaikan raga yang kehilangan ruh-nya!

5. Meskipun orang Jawa Barat rata-rata berbahasa Sunda, tapi setiap daerah punya dialek yang berbeda-beda..


Ada banyak dialek bahasa sunda
Ada banyak dialek bahasa sunda via www.djarumfoundation.org
Meskipun sama-sama berbahasa Sunda, tapi setiap daerah punya ciri khas dialek yang berbeda-beda. Cara pengucapan dan intonasi nada antara orang Bandung, Garut, Tasikmalaya, Indramayu, Banten,Cianjur dan Cirebon yang lain pun berbeda-beda.
Meskipun terkenal dengan tutur katanya yang lemah lembut, ada juga kok dialek sunda yang kedengarannya seperti orang yang sedang marah-marah! Ada banget!

6. Sama dengan Bahasa Jawa, Bahasa Sunda juga ada yang halus dan kasar..


Ada sunda halus dan kasar..
Ada sunda halus dan kasar.. via kotamadya-bandung.blogspot.com
Bahasa sunda juga memiliki tingkatan bahasa seperti halnya bahasa jawa. Biasanya orang-orang sunda yang tinggal di daerah pedesaan masih kental dengan penggunaan bahasa sunda yang halus. Sedangkan yang tinggal di kota, penggunaan bahasa sunda halus sudah mulai meluntur terutama di kalangan anak-anak muda.

Pemuda-pemudi Sunda dari pedesaan
Saya = Abdi

Pemuda-pemudi Sunda di kota
Saya = Urang atau Aing!
Tapi kalau udah ngobrol sama orang tua, mau yang di desa atau di kota wajib kudu ngomong alus!

7. Orang Sunda paling nggak terima kalau dibilang nggak bisa ngucapin huruf ‘F” dan “V”!


SIapa bilang orang sunda nggak bisa bilang "EP'?
SIapa bilang orang sunda nggak bisa bilang “EP’? via friendfeed.com

 “CEUK SAHA URANG SUNDA TEU BISA NGOMONG “F”? ITU MAH PITNAH! PITNAAAHHH!”

8. Atau kalau enggak, antara huruf “F” dan “P” seringkali akan tertukar-tukar posisinya


Tuh bisa boang F!
Tuh bisa boang F! via friendfeed.com

“Cep.. kuliah dimana cep? Ambil jurusan apa?”
Abdi kuliah di PIKOM UNFAD, Pak”

9. Satu kelebihan yang sering banget ditemui di Urang Sunda: paling hebat soal “ngabodor” (melucu)!

Kelucuan dan kejenakaan orang Sunda memang nggak perlu diragukan. Selain ramah, orang sunda memang terkenal memiliki selera humor yang tinggi. Buktinya adalah tokoh-tokoh ini!

Sule


Jago ngabodor
Jago ngabodor via www.tempo.co
Siapa yang nggak kenal Sule? Sule adalah salah satu pelawak papan atas Indonesia yang berasal dari Bandung. Sule terkenal dengan ‘bodoran’-nya yang mampu membuat orang-orang terpingkal-pingkal.

Ridwan Kamil, Walikota Bandung


Kang emil juga bisa ngabodor..
Kang emil juga bisa hereuy via sosbud.kompasiana.com
Meskipun beliau adalah seorang Wali Kota Bandung, beliau tetap ramah kepada warganya. Bahkan beliau tak ragu-ragu membalas tweet dari followers-nya dengan cara yang jenaka. Beliau nggak malu kalau harus ngabodor di media sosial!

Ceu Popong


Ceu Popong kumaha paluna? Damang?
Ceu Popong kumaha paluna? Damang? via www.yangmuda.com
Siapa yang nggak tahu ceu popong? Anggota dewan tertua di DPR ini adalah salah satu tokoh yang sempat fenomenal. Dalam sidang paripurna yang berjalan ricuh tempo kemarin, Ceu Popong yang kala itu sedang bertugas sebagai pemimpin sidang justru terlihat santai dan bahkan sempat ‘ngabodor’. Saat beliau kehilangan palu sidang, beliau sempat menyelutkkan kalimat berbahasa sunda:

Mana paluna eweuh? (Mana palunya nggak ada?)


10. Selain dari logatnya, ciri khasnya orang sunda bisa dilihat dari nama orangnya yang kebanyakan diulang!


sdwfw
Namanya ada rimanya.. via www.flickr.com

Iwan Setiawan

Eti Suketi

Cecep Surecep

Engkos Koswara

Endi Ruskendi

Ice Juice

11. Kalau namamu ‘Nyunda Pisan’, Kamu seringkali memilih untuk dipanggil dengan panggilan nama yang lebih modern..


Namanya nyunda pisan..
Namanya modern saeutik lah ya.. via www.flickr.com
Misalkan..

Nama lengkap: Endang Jaelani
Dipanggil: EJA

Nama lengkap: Sri Agustina
Dipanggil: AGI
*Apeuuuuu…

12. Bahasa Sunda itu ‘riweuh‘, dan cuma orang Sunda pisan yang bakalan ngerti!


Bahasa sunda mah riweuh
Bahasa sunda mah riweuh via www.flickr.com
Untuk kata “makan”, jika diubah ke bahasa Sunda bisa jadi banyak:

Emam = untuk anak kecil sopan
Tuang = untuk orang tua, lebih tua sedikit, dan sebaya sopan
Dahar= untuk teman sebaya sedikit kasar
Nyatu = kasar
Ngelebok = kasar banget

Itu baru kata yang umum, belum ditambah yang kayak begini…


Tisoledad yeuh!!
Tisoledat tikusruk yeuh!! via twitter.com

13. Bagi Orang Sunda, PERSIB Bandung itu udah mendarah daging!


Gubernur & Wagub Jabar, Walikota Bandung juga Bobotoh!
Gubernur & Wagub Jabar, Walikota Bandung juga Bobotoh! via bola.okezone.com

 BOBOTOH PERSIB! PIKING YEUH… PIKING! PERSIB NU AING! ARI AING NU SAHA?? TEUING ATUH…
(Bobotoh Persib! Viking nih.. Viking.. Persib punya gue! Kalau gue punya siapa? Ya gak tahu atuh..)

14. Kalau orang lain gak bisa hidup tanpa oksigen, kamu mah gak bisa hidup tanpa ini!


Lalapan


Wajib ada!
Wajib ada! via www.flickr.com
Orang sunda mah pasti doyan banget sama yang namanya lalaban. Segala macam kuliner khas Sunda kurang lengkap kalau disajikan tanpa adanya lalaban. Segala macam sayuran mentah yang aneh-aneh pun tetap disantap dan terasa nikmat. Kalau orang bule makan salad, orang sunda mah makan lalab!

Sambel ‘nu lada’


Sambal sunda nu lada!
Sambal sunda nu lada! via www.tupai.com.my
Kuliner Indonesia memang serba pedas, begitu juga kuliner Sunda. Bagi orang sunda, makanan jadi nggak nikmat kalau nggak ada yang namanya sambal yang pedas! Nasi timbel dan ngaliwet, nggak akan nikmat kalau nggak ada lalaban dan sambel! Ngebaso juga kalau bisa pakai lalaban juga!

15. Sambel aja nggak cukup bagimu, kamu juga doyan banget sama makanan “nu lada”!

Sambel aja juga belum cukup bagi orang sunda. Segala bentuk macam makanan akan digemari oleh Orang Sunda kalau makanan itu “lada” alias pedas!

Seblak basah, lumpia basah, harus pedas!


Seblak baseuh..
Seblak baseuh.. via seseblakan.com

Kripik juga harus pedas!


Keripiknya sampe lepel 10
Keripiknya sampe lepel 10 via s1188.photobucket.com
Level pedasnya sampai 10! Awas, bisi nyeuri beuteung (nanti takut sakit perut)… heuheuheu!

Ceker ayam juga pedasnya pake’ lepel’!


Ceker seuhah
Ceker seuhah via albana19.blogspot.com

POKONA MAH KUDU SEUHAH! *ngacai

16. Kuliner sunda juga terkenal enak-enak, dan bakal makin terasa lebih nikmat kalau makan pakai tangan!


Kuliner khas sunda
Kuliner khas sunda via www.infobdg.com
Tanah Priangan juga surganya kuliner. Banyak banget makanan khas tradisional Sunda yang terkenal enak! Buat orang sunda, makanan Sunda bakalan lebih nikmat kalau dimakan menggunakan tangan. Nggak perlu sendok atau garpu!

17. Orang Sunda hobinya ya makan, apalagi kalau makannya botram!



ngabotram yuk!
Makan botram adalah tradisi makan bersama-sama-sama ala Sunda. Tapi bukan makan-makan bersama di rumah makan, lho! Makan botram biasa dilakukan bersama-sama saudara atau teman-teman dimana saja. Biasanya menunya adalah nasi liwet dengan porsi besar yang disajikan di atas daun pisang utuh, lalu setiap orang duduk mengitari daun pisang dan menyantapnya bersama-sama. Botram bisa dilakukan dimana aja, di rumah, kebun, tepi sawah, bahkan di pinggir sungai! Seruuu pisaan lah!

Tapi orang-orang Sunda nggak luput dari stereotip-stereotip negatif


18. Selain terkenal keramah tamahannya, orang sunda juga dikenal sebagi pribadi yang pemalas


Ceuk saha urang sunda pemalas?
Ceuk saha urang sunda pemalas? via www.indonesianfilmcenter.com
Banyak yang menganggap kalau orang-orang sunda itu pemalas, nggak mau usaha dan bekerja keras. Entahlah, bagaimana stereotip ini bisa merebak di masyarakat. Mungkin karena disangkut pautkan dengan tokoh dongeng “Kabayan’ yang kerjaannya hanya memancing ikan saja. Padahal orang sunda juga sama seperti dari suku lain yang juga bekerja giat untuk menghidupi dirinya setiap hari.
Buktinya di Bandung juga banyak banget daerah-daerah pengrajin dan usaha, sebut saja Cibaduyut, warganya rata-rata adalah pengrajin dan pengusaha sepatu, bahkan produk-produnya banyak yang diekspor ke luar negeri juga! Banyak juga Orang Sunda yang sukses jadi seorang pengusaha sukses, seperti Chairul Tanjung,  Reza Nurhilman (presiden keripik maicih), dan Eddy Kusnadi Sariaatmadja.

19. Orang Sunda juga sering dibilang “jago kandang”, alias nggak berani merantau keluar dari Jawa Barat


Nggak berani merantau ceunah
Nggak berani merantau ceunah via ramdanarr.wordpress.com
Dibandingkan dengan suku-suku lainnya, seperti suku Jawa, Padang, dan Batak yang terkenal seorang perantau ulung, Orang Sunda memang belum diakui ketangguhannya sebagai seorang perantau. Orang Sunda nggak pernah mau untuk pergi jauh-jauh dari daerah asalnya — Jawa Barat.
Padahal nggak semua Orang Sunda seperti itu! Banyak juga kok orang Sunda yang berani melanglang buana ke daerah-daerah lain untuk mencari bekal hidup di dunia!

20. Cewek Sunda Juga Sering Banget Dibilang Cewek Matre!


Cewek sunda mah enggak matre atuh..
Cewek sunda mah enggak matre atuh.. via adayphotography.deviantart.com
Yaelah, cewek matre mah bisa dari mana aja broo.. nggak cuma Orang Sunda doang! Nggak semua cewek sunda itu matrealistis kok. Cewek-cewek Sunda juga bisa kerja keras nyari duit sendiri. Cewek Sunda matre itu cuma mitos belaka, jangan dipercaya!

21. Mitos yang paling melegenda itu, Orang Jawa dan Sunda nggak cocok dan nggak boleh menikah!


Aa' Raffi nikah sama mbak Gigi
Aa’ Raffi nikah sama mbak Gigi.. via www.globalindonesianvoices.com
Mitos ini berdar cukup kencang di kalangan orang Jawa dan Sunda. Mitos ini jelas menyudutkan posisi Orang Sunda, karena dikenal pemalas dan matre, maka Orang Sunda akan merugikan pasangannya. Ada juga yang bilangmitos ini dilatarbelakangi oleh sejarah perang Bubat, antara Kerajaan Majapahit dan Pajajaran.
Tapi mitos memang hanyalah mitos, kebenarannya nggak bisa dibuktikan. Buktinya, banyak banget orang jawa dan sunda yang bersatu dan menjalin ikatan pernikahan, dan Alhamdulillah… langgeng sampai kakek nenek.

22. Tapi nggak bisa dipungkiri kalau Orang Sunda itu teh kreatip-kreatip eh.. kreatif!


Tuh, kreatip pan?
Tuh, kreatip pan? via www.facebook.com
Orang Sunda itu kreatif-kreatif.. Banyak seniman dan pemusik Sunda yang terkenal dengan kreatifitasnya. Bandung, sebagai Ibu Kota Jawa Barat, terdapat banyak tempat yang mendukung para warganya untuk mengembangkan kreativitasnya. Dari kecintaannya dengan hal-hal yang lucu, Urang Sunda bisa memanfaatkannya menjadi salah satu daya tarik kesundaan mereka. Apapun yang ada di sekelilingnya, mampu diubahnya menjadi sesuatu yagng lebih bernilai dan bermanfaat,

23. Suasana tanah pasundan itu memang nyaman, masyarakatnya pun masih menjunjung tinggi adat istiadat, kesopanan dan kesantunan


menjunjung adat istiadat, dan kesopan santunan
menjunjung adat istiadat, dan kesopan santunan via www.info-outbound.com
Nggak bisa dibhongi, kalau tanah pasundan itu ‘gemah ripah loh jinawi’, tentram dan makmur, serta sangat subur tanahnya. Nggak salah kalau Orang Sunda sangat cinta mati dengan daerahnya.
Keramahan, kesopanan dan kesantunan juga masih dijunjung tinggi. Dari kecil kamu dididik untuk selalu berperilaku santun kepada orang lain, bahkan orang kepada orang asing yang baru kamu temui. Buatmu tiada tempat paling nyaman selain di tanah Sunda. Kalau orang lain hebat dalam hal merantau, Urang Sunda mah jago ngerawat dan ngajaga tanah kelahirannya!

24. Nggak peduli orang lain bicara apa tentang Orang Sunda, bagimu Sunda adalah jiwa dan ragamu. Kamu sepenuhnya bangga dan bahagia jadi Orang Sunda!


Abdi urang sunda!
Abdi urang sunda! via www.hipwee.com
Dibalik stereotip-stereotip negatif tentang Orang Sunda, kamu nggak peduli. Kamu akan selalu bangga dan bahagia menjadi Orang Sunda. Sunda adalah identitasmu sampai kapanpun, dan Sunda adalah jiwa dan ragamu!
POKONA MAH ABDI BUNGAH SARENG BAGJA JANTEN URANG SUNDA!


sumber: http://www.hipwee.com/hiburan/cuma-urang-urang-sunda-yang-paham-ragam-kehidupan-seperti-ini/

Jowo and sunda

   Oke kali ini saya akan berbagi tentang Jowo vs sunda, yang saya share di sini yaitu tentang perang bubat jowo vs sunda, yuu kita baca sama sama buat nambah nambah ilmu sejarah kita..
    Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu di masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda. Sumber-sumber rujukan tertua mengenai adanya perang ini terutama adalah Serat Pararaton serta Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang

 

 

Rencana pernikahan

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Menurut catatan sejarah Pajajaran oleh Saleh Danasasmita serta Naskah Perang Bubat oleh Yoseph Iskandar, niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.
Alasan umum yang dapat diterima adalah Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda.[1] Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu,[butuh rujukan] tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan[butuh rujukan] bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Linggabuana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Kesalah-pahaman

Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.
Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak[butuh rujukan] Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang[butuh rujukan] atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Gugurnya rombongan Sunda

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Raja Sunda beserta segenap pejabat kerajaan Sunda dapat didatangkan di Majapahit dan binasa di lapangan Bubat.
Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati, bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya.Tindakan ini mungkin diikuti oleh segenap perempuan-perempuan Sunda yang masih tersisa, baik bangsawan ataupun abdi. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatriya, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Akibat

Tradisi menyebutkan bahwa Hayam Wuruk meratapi kematian Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya. Raja Hayam Wuruk kemudian menikahi sepupunya sendiri, Paduka Sori.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Ia dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri. Peristiwa yang penuh kemalangan ini pun menandai mulai turunnya karier Gajah Mada, karena kemudian Hayam Wuruk menganugerahinya tanah perdikan di Madakaripura (kini Probolinggo). Meskipun tindakan ini nampak sebagai penganugerahan, tindakan ini dapat ditafsirkan sebagai anjuran halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan untuk pensiun, karena tanah ini letaknya jauh dari ibu kota Majapahit sehingga Gajah Mada mulai mengundurkan diri dari politik kenegaraan istana Majapahit. Meskipun demikian, menurut Negarakertagama Gajah Mada masih disebutkan nama dan jabatannya, sehingga ditafsirkan Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai akhir hayatnya (1364).
Tragedi ini merusak hubungan kenegaraan antar kedua negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian, hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.[1] Pangeran Niskalawastu Kancana — adik Putri Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil — menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana. Kebijakannya antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki "Prabu Wangi" (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.
Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama "Gajah Mada" atau "Majapahit". Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.
Hal yang menarik antara lain, meskipun Bali sering kali dianggap sebagai pewaris kebudayaan Majapahit, masyarakat Bali sepertinya cenderung berpihak kepada kerajaan Sunda dalam hal ini, seperti terbukti dalam naskah Bali Kidung Sunda. Penghormatan dan kekaguman pihak Bali atas tindakan keluarga kerajaan Sunda yang dengan gagah berani menghadapi kematian, sangat mungkin karena kesesuaiannya dengan ajaran Hindu mengenai tata perilaku dan nilai-nilai kehormatan kasta ksatriya, bahwa kematian yang utama dan sempurna bagi seorang ksatriya adalah di ujung pedang di tengah medan laga. Nilai-nilai kepahlawanan dan keberanian ini mendapatkan sandingannya dalam kebudayaan Bali, yakni tradisi puputan,pertempuran hingga mati yang dilakukan kaum prianya, disusul ritual bunuh diri yang dilakukan kaum wanitanya. Mereka memilih mati mulia daripada menyerah, tetap hidup, tetapi menanggung malu, kehinaan dan kekalahan.


pengen lebih jelas kunjungi
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bubat

Thursday, June 4, 2015

Cerpen Anak Muda

1.Hujan Senja Cerpen 
Karangan:
Lolos moderasi pada: 3 June 2015

Sore itu handphone yang ku taruh di atas meja belajar berdering tanda ada pesan masuk. Ternyata sahabatku naila, bukan kata-kata penting hanya kata iseng saja. Kubalas sms itu, hingga bonus sms pun tiba. Naila menceritakan seorang ikhwan di sekolahnya, ya aku dan nila tidak satu sekolah, naila berada di provinsi sumsel dan aku di lampung. “namanya fadly raa, ketua rohis di sekolah, rajin sholat, rajin puasa, pendiam juga”, ungkapnya panjang lebar. Salamkan saja ya, ungkapku dalam pesan itu. Adzan magrib berkumandang segera kulaksanakan perintahnya.
Esoknya pusing sudah kepalaku mengerjakan pr fisika, akhirnya kuputuskan tuk sms sahabatku naila, “gimana salamnya kemaren?”
“salam balik, katanya cin”
Entah setan apa yang berhasil membujukku untuk meminta no hp si ikhwan. Dengan mudah no hp itu ku dapatkan, dari siapa lagi kalau bukan dari naila.
Kuberanikan sms sang ikhwan, basa basi apa modus ya? Aku menanyakan satu dari sekian soal fisika yang tak ku ketahui apa jawabanya. Tak lama kemudian sms itu pun dibalas, ia menanyakan siapa aku?, otakku mulai berputar jika aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya tentu ia akan menilai aku sebagai wanita gatel atau sejenis akhwat genit, oh Tuhan tidak tidak tidak, aku pun memilih untuk merahasiakan identitas ku, ku katakan padanya cukuplah mengenaliku lewat tulisan sampai waktu yang tepat jika Tuhan berkehendak tuk mempertemukan aku dan dirimu. Ia pun bisa menerima apa yang ku utarakan tersebut.
Suatu senja, ketika hujan tiba membasahi bumi tanpa sedikit pun diiringi petir ataupun kilat, kupandang butir-butir hukan itu bagai tangis rindu akan bumi yang telah lama tak tersentuh airnya, hp yang sedari tadi kupegang, sms fadly mendarat di hp ku, “jika suatu saat ku temukan engkau sebagai seorang dari kaum hawa, bolehkah aku mencintai dan menyangimu karenanya. Dan jika engkau seorang dari kaum adam bolehkan aku menjadikanmu seorang sahabatku”, tentu saja ku balas dengan kata boleh saja. Sejak saat itu sering sekali aku melakukan aksi bodoh yang dikenal orang dengan nama smsan.
Suatu ketika kutemukan suatu pelajaran baru yang belum ku tahu sebelumnya, intinya smsan dengan seorang ikhwan yang bukan muhrim sama saja dengan zina, kecuali jika mendesak dan amat penting, astagfirullah apa yang kulakukan selama ini, dengan sigap ku kirim pesan pada akhi fadly tentang apa saja yang baru ku ketahui dan ternyata ia pun baru mengetahui hal itu dariku. Oh anak SMA oh anak SMA, ilmunya tipis sekali. Sejak saat itulah kami menghentikan komunikasi di antara kami.
Bulan berlalu tahun berganti, Pagi yang cerah dengan semangat yang teramat mendaratlah pesawat yang ku tumpangi dari yogyakarta menuju palembang, setelah S2 UGM dapat kuraih, aku ingin kembali ke tanah pempek yang telah lama kutinggalkan, rindu memburu pada sahabat sahabat saat di smp dulu, dan juga dorongan keinginan teramat bertemu dengan ikhwan yang dulu pernah ku kenal lewat sms. Dari palembang menuju prabumulih aku memilih pergi dengan bus, sesampainya langsung saja aku menuju rumah sahabatku naila, naila memelukku erat air mata pun membanjiri kedua mata kami. Aku mengutarakan apa yang ku ingin pada sahabatku, esok ia berjanji akan mengantarku ke rumah akhi fadly.
Tak secerah pagi kemarin matahari memilih bersembunyi di balik awan, tak mengalahkan apa yang menjadi tujuan kami, welcome to akhi fadly, terbalik sepertinya, bukankah si ikhwan yang memulai, oh no.
Ku ketuk pintu, ku ucap salam bersamaan dengan naila, tak lama pintu dibuka, munculah seorang ikhwan dari balik pintu, sekilas ku tatap dan kembali kutundukkan pandangan. “silahkan masuk” ucapnya. Aku dan naila pun masuk, ruangan itu sederhana namun rapi dan unik menurutku. Langsung saja ku ucapkan apa yang selama ini mengendap di hati dan otaku. “subhanallah, insha Allah ana siap menjadi imam anti”, ucapnya, detak jantung dan gemetar yang ku tahan sendari tadi pun perlahan mereda, lirih kuucap alhamdulillah
Cerpen Karangan: Septia Dwi Putri
Facebook: Septia Dwi Putri Hafisaisyah


Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru..
 
 
2.Cinta dan Rahasianya
Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 20 February 2014

“La Tahzan” mungkin kalimat itulah jawaban Tuhan atas semua pertanyaanku. Jawaban atas kesedihan yang selama ini selalu menyesakkan dadaku, jawaban atas kegalauan hatiku, jawaban atas kebimbangan hatiku, dan mungkin jawaban atas hubunganku dengan dia. Setiap kali aku bersedih, setiap kali aku membaca Al-Qur’an, setiap kali itu juga selalu ada kalimat “La Tahzan” di dalamnya. Entahlah, aku berharap semoga ini memang terbaik untukku.
Hubunganku dengan dia harus benar-benar berakhir saat itu juga, saat bulan ramadhan, saat semua orang penuh suka cita menjalani bulan penuh berkah itu, dan saat aku harus bersedih menjalani keputusan ini. Mungkin ini memang salahku, aku meninggalkannya tanpa sedikitpun penjelasan, hingga dia harus benar-benar pergi. Pergi bersama keputusan yang membuat kami berdua beradu dalam kegalauan yang teramat sangat. Mungkin juga ini adalah hukum karma untukku karena meninggalkannya tanpa memberinya alasan, dan kali ini gantian dia yang meninggalkanku. Meskipun niatku meninggalkannya adalah terbaik untuk kita berdua, aku nggak ingin di antara kami ada banyak belenggu-belenggu setan yang dapat menyesatkan kami, aku hanya ingin aku dan dia benar-benar jadi kekasih halal yang terlindungi, tanpa belenggu-belenggu setan. Tapi itulah, niat baik nggak selamanya berakhir baik, bahkan terkadang menyakiti kita. Huft, aku menyesal telah melakukannya. Tapi, selalu banyak “tapi” yang berputar di pikiranku. Aku hanya bisa pasrah, pasrah pada kenyataan ini.
Hingga saat ini aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya, memang dari awal kita selalu jarak jauh, bahkan saat masih ada hubungan pun kita juga jarak jauh. Jangankan telepon, SMS pun sudah lagi tak kami lakukan, bahkan aku pikir nomor ponselku mungkin sudah dia hapus. Entahlah. Dia benar-benar marah kepadaku. Saat terakhir kami bertemu, dia bilang kalau akan menikah dengan wanita lain, aku berharap itu adalah pilihan yang benar-benar berasal dari hatinya, dan pilihan yang terbaik untuknya. Aku berusaha untuk ikhlas menerima keputusannya. Dan aku, aku selalu mengingat kalimat “La Tahzan” itu, kalimat penyemangatku, kalimat penyejuk hatiku, dan kalimat yang selalu bisa menenangkan hatiku. Aku hanya berharap untuk bisa mendapatkan penggantimu, pengganti yang lebih baik darimu. Walaupun aku tak pernah mengutarakan alasanku meninggalkanmu, ya hanya ku simpan dalam hatiku, hanya aku dan Illahi lah yang tahu. Yakinlah, ini adalah terbaik untukku dan untuknya.
Cerpen Karangan: Cahaya Intan
Facebook: Cahaya Intan Permata
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis 
 


3.Karya Hati

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 18 June 2014

“kau boleh acuhkan diriku.. dan anggap ku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku.. kepadamu..”
Sepenggal kalimat itu yang kini sering berderu di telingaku. Aku Nan, seorang gadis kecil kini menjelma menjadi gadis remaja yang labil. 3 tahun sudah aku mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah pertama. Dan kini aku berada di penghujung waktu itu.
Tak sampai setahun lagi, aku akan berpisah dengan teman-temanku, terutama dengan seseorang yang sinar matanya terus menerangi memori ini. Dialah sir, seorang pria yang yang hampir 2 tahun terakhir ini tak pernah absen dari pandanganku.
Kisah ini berawal ketika aku mulai benar-benar membuka hatiku untuk pertama kalinya pada lawan jenis. Tatapannya membuatku tak berani berkutik. Ucapannya amat berbekas di hati, dan tawanya benar-benar membangkitkan hati yang tengah sepi, dan kadang menggerutu. Aku merasa.. hal ini pertanda bahwa ada rasa yangg jauh terpendam di dalam hati ini untuk sir. Inginnya aku mengungkapkan itu, tapi aku perempuan aku tak bisa berbuat apa-apa. aku hanya bisa mengungkapkannya melalui sahabat-sahabatku yang peduli akan perasaan ini. 1, 2, 3, bahkan 4 wanita yang pernah singgah di hatinya, dan tak sedikit yang membuatnya patah hati, seolah tak membuatnya lelah mencari. Sosok yang seperti apa aku tak mengerti.
tapi seolah jenuh, tak jarang aku berfikir kenapa tak bisa ia menoleh ke sebelahnya, hanya sekedar untuk memberi kesempatan bagiku yang memang tak sempurna. Tapi aku siap untuk diuji, dan perasaanku selalu setia hadir setiap hari. Tapi semua itu tak lantas membuat dia mengerti dan peduli akan hal itu. Aku benar-benar tak mengerti apa yang menjadikan hatinya seolah tak bisa terbuka untukku. Padahal aku bukan orang asing baginya. Hariku tak jarang kulalui bersamanya, sekedar untuk saling berbagi dan menuangkan isi hati kami. Tapi tak bisa juga aku membuatnya jatuh hati pada apa adanya diriku. Memang sulit, aku takkan pernah bisa menebak isi hati dan fikiranya cuma-cuma. Hanya dia yang paham isi hatinya.
Sampai satu hari, layaknya bunga yang tengah merekah, mulai banyak teman lelakiku yang hadir hanya sekedar untuk mengutarakan isi hatinya padaku. Tapi aku tetap saja ngotot mempertahankan perasaan dan hatiku untuk sir.
Satu hari temanku bertanya padaku “sampai kapan kamu akan bertahan dengan perasaanmu yang seperti ini padanya nan?, sampai kapanpun sir tidak akan pernah melihatmu kalau memang dia tidak mau”
“iya nan, lagi pula perjalanan hidupmu masih sangat jauh, jangan terlalu mendalam, ayolah nan lupakan, masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dari sir”
Tapi aku tak pernah bosan menjawab, “ini masalah hati, apapun tak bisa merubahnya, selama aku masih dengan senang hati menjalanai, dan menikmatinya, ya sudah.. biarkan perasaan ini mengalir. Yang jelas, dia senang, aku pun turut senang. jadi santai saja..”
Tak sedikit orang yang menganggap ini berlebihan, termasuk aku sendiri. tapi apa boleh buat.. ini perasaan yang luar biasa. Kurasa remaja seusiaku pasti mengerti. Yang jelas aku tak pernah memaksa sir untuk mengerti perasaanku ini, karena sir juga memiliki hati yang jauh lebih ia pahami. aku tidak mengerti keinginanya, tapi aku cukup paham apa yang sir rasakan. Karena sinar mata sir tak pernah berhenti mengisahkan suasana hatinya. Aku pun begitu, perasaan apa pun yang kumiliki saat ini tak lain adalah sebuah karya hati yang tak pernah bisa diprediksi kapan rasanya akan berubah, dan berhenti. Yang jelas setauku perasaan itu masih setia hadir setiap hari, dan mengalir dengan tulus.. sampai detik ini. tak jarang pula aku mengisahkannya melalui pancaran mataku, yang kuyakin pasti, sir pun merasakanya. Dan suatu saat nanti mungkin bisa ia mengerti…
Cerpen Karangan: Arty Griyaning Rahayu
Facebook: Arty Griyaning Rahayu
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis



4.Move On! Cerpen 
Karangan:
Lolos moderasi pada: 23 May 2013

Dira datang dengan tergesa-gesa menghampiriku yang sedang duduk sendirian di kantin, sedang menghabiskan sarapan pagiku.
“Eh nyet, tumben amat lo jam segini udah ke kampus?” Ujarku begitu dia menyambangi mejaku
“Kampret. Gue bawa kabar baik nih buat lo,” sahutnya sambil menyambar gelas berisi susu cokelat hangat punyaku. Yah, dia memang suka mencomot makanan atau minumanku tanpa izin.
“Apaan sih?” Tanyaku malas-malasan dan menggeser piring makanku ke sudut meja.
“Ih lo tuh ya, penasaran dikit kek. Nih semalem ada tiga cowok yang nanyain nomer lo gara-gara baca artikel kampus yang majang foto lo. Satu anak sastra, satunya anak sospol dan satu lagi anak antro. Bersyukur lo punya temen anak jurnalis kaya gue, ikutan tenar kan paling enggak,” Cerocosnya dengan penuh semangat.
Entah sejak kapan Dira punya kebiasaan membawa kabar baik tentang cowok-cowok yang tiba-tiba menanyakan nomerku melaluinya. Lama-lama aku jadi curiga, mungkin dia yang mempromosikanku, bukannya para cowok itu bisa langsung bertanya kepadaku?.
“Ah males gue Dir, enggak minat punya pacar.”
“Ih lo itu, dari dulu punya alasan enggak ada kreatif-kreatifnya. Ini antrian laki udah panjang Cit, lo nungguin apa lagi? Tinggal pilih aja lo mau yang mana kan,”
Gara-gara artikel di majalah kampus yang pemimpin redaksinya adalah Dira, tiba-tiba aku jadi mendadak terkenal. Di edisi kemarin, Dira mengulas tentang para mahasiswa kampus yang ikut pertukaran pelajar ke Vietnam selama empat minggu, di situ terpampang jelas profilku, belum lagi edisi beberapa bulan yang lalu yang juga membahas profilku sebagai salah satu enterpreneur muda dan di tambah edisi perdana majalah kampus tahun lalu, wajahku terpampang sebagai covernya, alasannya karena aku high quality jomblo. Dasar iseng Dira itu, Entah bagaimana prosesnya tahu-tahu sudah ada CFC (dan bukan singkatan dari California Fried Chicken) yang merupakan kepanjangan dari Citra Fans Club.
Sudah tidak terhitung banyaknya kiriman bunga atau cokelat atau boneka dari orang-orang yang aku tidak kenal yang terkadang sering kali aku hibahkan begitu saja ke Dira. Cewek lain mungkin sirik berat dan ingin berada di posisiku, tapi aku justru ingin ada yang dengan rela menggantikan aku. Aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam ini.
“Gue males aja ah Dir, enggak minat sama yang beginian. Masih betah ngejomblo,” Ujarku memberi alasan
“Eh lo itu udah bertahun-tahun ngejomblo. Nungguin apaan sih? Masih belum bisa move on dari si Reno yang brengseknya luar biasa itu?”
Aku spontan menutup kupingku. Nama itu layaknya barang haram yang tidak boleh di sebut didepanku.
“Please, bisa gak kita enggak usah nyebut-nyebut nama itu?”
“Iya iya iya nona manis, tapi lo masih keinget dia kan mantan lo yang pacarannya dari jaman SMA? Belum bangkit dari dia kan? Dia aja udah enggak keitung pacaran sama berapa cewek sejak abis dari lo. Lo putus juga gara-gara dia selingkuh sama tiga cewek sekaligus kan? Cewek sekampus pula, enggak professional banget cara selingkuhnya. Yang naksir sama lo kan juga banyak Cit, masa dari segitu banyaknya enggak ada yang bikin lo kesengsem. Kalau lo sendiri gak mau usaha buat bangkit ya selamanya lo bakalan kaya gini terus, enggak guna juga meratapi orang yang udah enggak mikirin kita lagi kan.”
Kata-kata Dira masih terngiang jelas di telingaku. Memang aku sudah cukup lama menjadi jomblo, tapi apa iya semenyedihkan itu menjadi jomblo? Itu memang sudah keputusanku, walau tuduhan Dira yang bilang bahwa aku belum bisa move on dari Reno sejak nyaris dua setengah tahun yang lalu tidak sepenuhnya salah. Bayangkan, kami jadi pasangan ideal waktu itu, berpacaran dari SMA selama nyaris empat tahun. Sampai aku menemukan fakta bahwa dia berselingkuh tidak hanya dengan satu orang tapi beberapa orang sekaligus, dan bodohnya mangsanya adalah mahasiswa dari jurusan lain di kampusku. Berlagak jadi playboy tapi salah mencari mangsa, maklum belum professional sepertinya. Tapi di luar kelakuannya yang menyakitkan hati, sisi baiknya selama kami pacaranlah yang membuatku sulit lupa meski tahu dia brengsek luar biasa. Tapi kali ini kuputuskan untuk maju, dan menghapus bersih semua ingatan soal –dia yang tidak boleh disebut namanya- itu.
Dan disinilah aku, di sebuah kafe kecil langgananku. Duduk bersama Satrio, anak satu kampus dari jurusan SosPol, yang dulu dikenalkan Dira. Sejak ceramah panjang lebarnya akhirnya kuputuskan untuk menerima sarannya, mengikuti kencan buta. Dan ini kencan buta yang kesekian kalinya aku jalani. Kencan buta yang selalu di atur oleh Dira. Aku jadi tak sampai hati untuk bilang tidak tiap kali dia bertingkah seperti ini, sahabatku satu itu memang benar-benar serius ingin mencarikan aku pacar baru supaya aku bisa segera MOVE ON dari si brengsek itu.
Dan beberapa kejadian konyolpun terjadi saat kencan buta, diantaranya kencan bersama Fahmi, anak kedokteran yang bawaannya mobil sport Mazda RX-8 serta beberapa mobil mewah lainnya. Heran juga karena setiap kami keluar mobil yang dipakainya selalu saja berbeda. Sampai pada akhirnya di kencan ketiga kami yang membuatku tidak tahan karena dia bawel luar biasa, seperti dua Dira dijadikan satu. Belum lagi tambahan ucapannya yang selalu memamerkan betapa kayanya dia. Bah, mana tahan aku harus pacaran dengan lagi-laki seperti itu.
Ada lagi Reyhan, anak jurusan sastra Belanda, badannya tegap dan atletis, wajahnya-pun bisa di bilang lumayan, yang waktu itu membawaku kencan ke resto Belanda, setelah memesan menu paling spesial disitu dan ketika akan membayar, dia malah berkilah memberi alasan ‘Dompet gue ketinggalan’. Yah kalau masih sekali atau dua kali mungkin aku masih tidak masalah, tapi sampai kencan ketiga kami dia masih saja memberikan alasan yang sama.
Belum lagi Mario, anak jurusan Teknik Sipil yang macho dan tegap tapi aroma badannya juga tidak kalah luar biasanya. Dan cerita-cerita lainnya hingga akhirnya pilihanku jatuh pada Satrio. Satu tingkat diatasku, mahasiswa SosPol tingkat akhir. Kali ini sudah masuk hitungan ketiga untuk kencan kami. Aku punya satu pakem standar kencan, dimana menurutku batas ketika aku ingin melanjutkan hubungan ini adalah terletak di kencan ketiga.
Sejauh ini orangnya cukup oke, tahu cara memperlakukan wanita, tidak bawel, dan yang terpenting dia bebas bau badan. Kami sudah saling rajin ber-sms-an ria dan mulai menebarkan jurus-jurus ala orang yang sedang pedekate hampir satu bulan. Dari segi fisik, dia tampan, badannya tegap, dan tubuhnya proporsional. Yang aku tahu, dia ini juga tergolong aktivis kampus, pernah menjabat sebagai ketua pecinta alam kampusku. Sejauh yang aku tahu, dia punya satu orang adik. Dia sudah lama menjomblo, dan kami punya cukup banyak kesamaan hobi.
“Eh, minggu ini nganggur gak Cit?” Ujarnya di sela-sela makan malam kami
“Kosong sih, kenapa kak?”
“Ah, masih kaku aja lo, gak usah pake panggil kak segala. Kayak baru kenal aja. Kita ke pantai yuk,”
Aku terlonjak kaget sampai nyaris melongo, tahu saja dia betapa aku sangat mencintai pantai, “Boleh, boleh. Dalam rangka apa nih?”
Satrio tersenyum penuh arti dan menatapku, “Soalnya mau ada Family Gathering Cit. Boleh dong gue ngebawa orang yang spesial buat gue,”
Nah lho, nah lho. Ini sih semacam kode banget. tiba-tiba mendadak jantungku berdebar tidak karuan, dugaanku setelah ini…
“Lo mau gak jadi cewek gue? Mungkin emang kecepetan, tapi gak tahu ya Cit, gue nyaman banget sama lo, dan gue sayang sama lo Cit”
JREEEENGGG JREEENGGGG.
Sebenarnya aku senang luar biasa, dan tanpa pikir panjang kuputuskan untuk mengiyakan ajakannya. Resmilah kami jadi pasangan baru.
“Cieeee, udah punya monyet baru nih lo ceritanya?” Ujar Dira yang langsung menghampiriku di Kampus keesokkan harinya.
“Apaan sih? Masa Satria di bilang monyet,” sahutku
“Ah sensi amat nih pasangan baru. Selamet ya nyet, akhirnya lo move on juga. Gue kirain lo emang udah beneran enggak bisa suka sama cowok lagi nyet.”
“Eh sembarangan lo. Gini-gini gue masih belum minat sama sesama jenis ya.”
“Abis ini gue mau buatin buletin edisi “Couples Campus” ah nyet.”
“Ih ngapain banget sih? Gue bukan seleb non, gak pake publisitas begituan ah, ogah gue.”
“Lo inget gak sih? Lo sama dia itu pernah sama-sama mengisi kolom high quality jomblo dan pasti bakal seru banget kalau sampai ada berita tentang bersatunya duo high quality jomblo ini nyet,” Ujar Dira berapi-api. Aku Cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah sahabatku satu ini.
Pantai Pangandaran siang ini rasanya berbeda dengan yang terakhir kali aku kunjungi. Dulu yang menemaniku adalah Rheno, tapi sekarang ada Satria disini. Kata Dira, Orang baru selalu membawa sensasi baru ternyata memang benar. Kami datang lebih pagi di banding keluarganya, terlalu pagi malah. Satria bilang ia hanya ingin melihat matahari terbit bersamaku. Isn’t that really sweet, huh? Many thanks to Dira yang sudah memperkenalkan aku dengan orang sebaik Satria.
Kira-kira pukul sembilan pagi, sebuah mobil Avanza berwarna silver yang cukup aku kenali platnya, berhenti di dekat tempat kami akan mengadakan Family Gathering. Jantungku berdebar kencang, pintu mobil terbuka dan yang keluar adalah…
“Dek, kok lo lama banget sih?”
“Iya, macet tadi kak, lo aja yang kecepetan, mana sih pacar baru lo?”
Suara yang sudah sangat ku hapal, dan dia adalah RHENO!! Rheno si brengsek yang sudah membuat aku gagal move on berulang kali akibat ulah brengseknya dia. Tadi dia memanggil Satria apa? Kakak?
“Rhe-no?” Ucapku terbata-bata sambil memberanikan diri menatap wajahnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Lho, Kalian Saling kenal?” Ujar Satria kebingungan sambil menatap kami.
“Jadi pacar baru lo Citra bang?”
“Iya dek, eh tapi kayaknya kalian udah saling kenal deh jadi gak usah pake perkenalan lagi ya?” Jawab Satria sambil
tertawa kemudian.
“Kalian adik kakak?” Tanyaku pasrah.
“Iya Hon, aku pernah bilang kan, aku punya adik cowok setingkat sama kamu. Eh enggak tahunya kalian udah saling kenal, kenal dari mana?”
“Tapi kamu enggak pernah bilang kalau adik kamu itu Rheno Aditya dan Rheno juga gak pernah bilang dia punya kakak cowok namanya Satria,” Ujarku panik bercampur lemas.
“Iya dia kan kalau di rumah panggilannya Adit, aku lupa nyebut nama panjangnya. Eh kalian kenal dimana?” Ucap Satria mengulangi pertanyaannya yang belum ku jawab.
“Abang gue kan namanya Satria Ramadiputra, dia dipanggilnya Rama kalau di rumah Cit,” Sahut Rheno tiba-tiba
“Kok bisa kenal sih kalian?” Ulang Satria sambil mengernyitkan dahinya.
Seketika itu aku lemas dan menghembuskan napas panjang. Satu-satunya yang harus disalahkan adalah Dira! Aku ralat ucapanku tadi.
Sial kalau begini jadinya bagaimana aku bisa Move on kalau harus terus bertemu dengan Rheno?
Cerpen Karangan: Zhea
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis,