tanggal

Thursday, June 4, 2015

Cerpen Anak Muda

1.Hujan Senja Cerpen 
Karangan:
Lolos moderasi pada: 3 June 2015

Sore itu handphone yang ku taruh di atas meja belajar berdering tanda ada pesan masuk. Ternyata sahabatku naila, bukan kata-kata penting hanya kata iseng saja. Kubalas sms itu, hingga bonus sms pun tiba. Naila menceritakan seorang ikhwan di sekolahnya, ya aku dan nila tidak satu sekolah, naila berada di provinsi sumsel dan aku di lampung. “namanya fadly raa, ketua rohis di sekolah, rajin sholat, rajin puasa, pendiam juga”, ungkapnya panjang lebar. Salamkan saja ya, ungkapku dalam pesan itu. Adzan magrib berkumandang segera kulaksanakan perintahnya.
Esoknya pusing sudah kepalaku mengerjakan pr fisika, akhirnya kuputuskan tuk sms sahabatku naila, “gimana salamnya kemaren?”
“salam balik, katanya cin”
Entah setan apa yang berhasil membujukku untuk meminta no hp si ikhwan. Dengan mudah no hp itu ku dapatkan, dari siapa lagi kalau bukan dari naila.
Kuberanikan sms sang ikhwan, basa basi apa modus ya? Aku menanyakan satu dari sekian soal fisika yang tak ku ketahui apa jawabanya. Tak lama kemudian sms itu pun dibalas, ia menanyakan siapa aku?, otakku mulai berputar jika aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya tentu ia akan menilai aku sebagai wanita gatel atau sejenis akhwat genit, oh Tuhan tidak tidak tidak, aku pun memilih untuk merahasiakan identitas ku, ku katakan padanya cukuplah mengenaliku lewat tulisan sampai waktu yang tepat jika Tuhan berkehendak tuk mempertemukan aku dan dirimu. Ia pun bisa menerima apa yang ku utarakan tersebut.
Suatu senja, ketika hujan tiba membasahi bumi tanpa sedikit pun diiringi petir ataupun kilat, kupandang butir-butir hukan itu bagai tangis rindu akan bumi yang telah lama tak tersentuh airnya, hp yang sedari tadi kupegang, sms fadly mendarat di hp ku, “jika suatu saat ku temukan engkau sebagai seorang dari kaum hawa, bolehkah aku mencintai dan menyangimu karenanya. Dan jika engkau seorang dari kaum adam bolehkan aku menjadikanmu seorang sahabatku”, tentu saja ku balas dengan kata boleh saja. Sejak saat itu sering sekali aku melakukan aksi bodoh yang dikenal orang dengan nama smsan.
Suatu ketika kutemukan suatu pelajaran baru yang belum ku tahu sebelumnya, intinya smsan dengan seorang ikhwan yang bukan muhrim sama saja dengan zina, kecuali jika mendesak dan amat penting, astagfirullah apa yang kulakukan selama ini, dengan sigap ku kirim pesan pada akhi fadly tentang apa saja yang baru ku ketahui dan ternyata ia pun baru mengetahui hal itu dariku. Oh anak SMA oh anak SMA, ilmunya tipis sekali. Sejak saat itulah kami menghentikan komunikasi di antara kami.
Bulan berlalu tahun berganti, Pagi yang cerah dengan semangat yang teramat mendaratlah pesawat yang ku tumpangi dari yogyakarta menuju palembang, setelah S2 UGM dapat kuraih, aku ingin kembali ke tanah pempek yang telah lama kutinggalkan, rindu memburu pada sahabat sahabat saat di smp dulu, dan juga dorongan keinginan teramat bertemu dengan ikhwan yang dulu pernah ku kenal lewat sms. Dari palembang menuju prabumulih aku memilih pergi dengan bus, sesampainya langsung saja aku menuju rumah sahabatku naila, naila memelukku erat air mata pun membanjiri kedua mata kami. Aku mengutarakan apa yang ku ingin pada sahabatku, esok ia berjanji akan mengantarku ke rumah akhi fadly.
Tak secerah pagi kemarin matahari memilih bersembunyi di balik awan, tak mengalahkan apa yang menjadi tujuan kami, welcome to akhi fadly, terbalik sepertinya, bukankah si ikhwan yang memulai, oh no.
Ku ketuk pintu, ku ucap salam bersamaan dengan naila, tak lama pintu dibuka, munculah seorang ikhwan dari balik pintu, sekilas ku tatap dan kembali kutundukkan pandangan. “silahkan masuk” ucapnya. Aku dan naila pun masuk, ruangan itu sederhana namun rapi dan unik menurutku. Langsung saja ku ucapkan apa yang selama ini mengendap di hati dan otaku. “subhanallah, insha Allah ana siap menjadi imam anti”, ucapnya, detak jantung dan gemetar yang ku tahan sendari tadi pun perlahan mereda, lirih kuucap alhamdulillah
Cerpen Karangan: Septia Dwi Putri
Facebook: Septia Dwi Putri Hafisaisyah


Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru..
 
 
2.Cinta dan Rahasianya
Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 20 February 2014

“La Tahzan” mungkin kalimat itulah jawaban Tuhan atas semua pertanyaanku. Jawaban atas kesedihan yang selama ini selalu menyesakkan dadaku, jawaban atas kegalauan hatiku, jawaban atas kebimbangan hatiku, dan mungkin jawaban atas hubunganku dengan dia. Setiap kali aku bersedih, setiap kali aku membaca Al-Qur’an, setiap kali itu juga selalu ada kalimat “La Tahzan” di dalamnya. Entahlah, aku berharap semoga ini memang terbaik untukku.
Hubunganku dengan dia harus benar-benar berakhir saat itu juga, saat bulan ramadhan, saat semua orang penuh suka cita menjalani bulan penuh berkah itu, dan saat aku harus bersedih menjalani keputusan ini. Mungkin ini memang salahku, aku meninggalkannya tanpa sedikitpun penjelasan, hingga dia harus benar-benar pergi. Pergi bersama keputusan yang membuat kami berdua beradu dalam kegalauan yang teramat sangat. Mungkin juga ini adalah hukum karma untukku karena meninggalkannya tanpa memberinya alasan, dan kali ini gantian dia yang meninggalkanku. Meskipun niatku meninggalkannya adalah terbaik untuk kita berdua, aku nggak ingin di antara kami ada banyak belenggu-belenggu setan yang dapat menyesatkan kami, aku hanya ingin aku dan dia benar-benar jadi kekasih halal yang terlindungi, tanpa belenggu-belenggu setan. Tapi itulah, niat baik nggak selamanya berakhir baik, bahkan terkadang menyakiti kita. Huft, aku menyesal telah melakukannya. Tapi, selalu banyak “tapi” yang berputar di pikiranku. Aku hanya bisa pasrah, pasrah pada kenyataan ini.
Hingga saat ini aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya, memang dari awal kita selalu jarak jauh, bahkan saat masih ada hubungan pun kita juga jarak jauh. Jangankan telepon, SMS pun sudah lagi tak kami lakukan, bahkan aku pikir nomor ponselku mungkin sudah dia hapus. Entahlah. Dia benar-benar marah kepadaku. Saat terakhir kami bertemu, dia bilang kalau akan menikah dengan wanita lain, aku berharap itu adalah pilihan yang benar-benar berasal dari hatinya, dan pilihan yang terbaik untuknya. Aku berusaha untuk ikhlas menerima keputusannya. Dan aku, aku selalu mengingat kalimat “La Tahzan” itu, kalimat penyemangatku, kalimat penyejuk hatiku, dan kalimat yang selalu bisa menenangkan hatiku. Aku hanya berharap untuk bisa mendapatkan penggantimu, pengganti yang lebih baik darimu. Walaupun aku tak pernah mengutarakan alasanku meninggalkanmu, ya hanya ku simpan dalam hatiku, hanya aku dan Illahi lah yang tahu. Yakinlah, ini adalah terbaik untukku dan untuknya.
Cerpen Karangan: Cahaya Intan
Facebook: Cahaya Intan Permata
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis 
 


3.Karya Hati

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 18 June 2014

“kau boleh acuhkan diriku.. dan anggap ku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku.. kepadamu..”
Sepenggal kalimat itu yang kini sering berderu di telingaku. Aku Nan, seorang gadis kecil kini menjelma menjadi gadis remaja yang labil. 3 tahun sudah aku mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah pertama. Dan kini aku berada di penghujung waktu itu.
Tak sampai setahun lagi, aku akan berpisah dengan teman-temanku, terutama dengan seseorang yang sinar matanya terus menerangi memori ini. Dialah sir, seorang pria yang yang hampir 2 tahun terakhir ini tak pernah absen dari pandanganku.
Kisah ini berawal ketika aku mulai benar-benar membuka hatiku untuk pertama kalinya pada lawan jenis. Tatapannya membuatku tak berani berkutik. Ucapannya amat berbekas di hati, dan tawanya benar-benar membangkitkan hati yang tengah sepi, dan kadang menggerutu. Aku merasa.. hal ini pertanda bahwa ada rasa yangg jauh terpendam di dalam hati ini untuk sir. Inginnya aku mengungkapkan itu, tapi aku perempuan aku tak bisa berbuat apa-apa. aku hanya bisa mengungkapkannya melalui sahabat-sahabatku yang peduli akan perasaan ini. 1, 2, 3, bahkan 4 wanita yang pernah singgah di hatinya, dan tak sedikit yang membuatnya patah hati, seolah tak membuatnya lelah mencari. Sosok yang seperti apa aku tak mengerti.
tapi seolah jenuh, tak jarang aku berfikir kenapa tak bisa ia menoleh ke sebelahnya, hanya sekedar untuk memberi kesempatan bagiku yang memang tak sempurna. Tapi aku siap untuk diuji, dan perasaanku selalu setia hadir setiap hari. Tapi semua itu tak lantas membuat dia mengerti dan peduli akan hal itu. Aku benar-benar tak mengerti apa yang menjadikan hatinya seolah tak bisa terbuka untukku. Padahal aku bukan orang asing baginya. Hariku tak jarang kulalui bersamanya, sekedar untuk saling berbagi dan menuangkan isi hati kami. Tapi tak bisa juga aku membuatnya jatuh hati pada apa adanya diriku. Memang sulit, aku takkan pernah bisa menebak isi hati dan fikiranya cuma-cuma. Hanya dia yang paham isi hatinya.
Sampai satu hari, layaknya bunga yang tengah merekah, mulai banyak teman lelakiku yang hadir hanya sekedar untuk mengutarakan isi hatinya padaku. Tapi aku tetap saja ngotot mempertahankan perasaan dan hatiku untuk sir.
Satu hari temanku bertanya padaku “sampai kapan kamu akan bertahan dengan perasaanmu yang seperti ini padanya nan?, sampai kapanpun sir tidak akan pernah melihatmu kalau memang dia tidak mau”
“iya nan, lagi pula perjalanan hidupmu masih sangat jauh, jangan terlalu mendalam, ayolah nan lupakan, masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dari sir”
Tapi aku tak pernah bosan menjawab, “ini masalah hati, apapun tak bisa merubahnya, selama aku masih dengan senang hati menjalanai, dan menikmatinya, ya sudah.. biarkan perasaan ini mengalir. Yang jelas, dia senang, aku pun turut senang. jadi santai saja..”
Tak sedikit orang yang menganggap ini berlebihan, termasuk aku sendiri. tapi apa boleh buat.. ini perasaan yang luar biasa. Kurasa remaja seusiaku pasti mengerti. Yang jelas aku tak pernah memaksa sir untuk mengerti perasaanku ini, karena sir juga memiliki hati yang jauh lebih ia pahami. aku tidak mengerti keinginanya, tapi aku cukup paham apa yang sir rasakan. Karena sinar mata sir tak pernah berhenti mengisahkan suasana hatinya. Aku pun begitu, perasaan apa pun yang kumiliki saat ini tak lain adalah sebuah karya hati yang tak pernah bisa diprediksi kapan rasanya akan berubah, dan berhenti. Yang jelas setauku perasaan itu masih setia hadir setiap hari, dan mengalir dengan tulus.. sampai detik ini. tak jarang pula aku mengisahkannya melalui pancaran mataku, yang kuyakin pasti, sir pun merasakanya. Dan suatu saat nanti mungkin bisa ia mengerti…
Cerpen Karangan: Arty Griyaning Rahayu
Facebook: Arty Griyaning Rahayu
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis



4.Move On! Cerpen 
Karangan:
Lolos moderasi pada: 23 May 2013

Dira datang dengan tergesa-gesa menghampiriku yang sedang duduk sendirian di kantin, sedang menghabiskan sarapan pagiku.
“Eh nyet, tumben amat lo jam segini udah ke kampus?” Ujarku begitu dia menyambangi mejaku
“Kampret. Gue bawa kabar baik nih buat lo,” sahutnya sambil menyambar gelas berisi susu cokelat hangat punyaku. Yah, dia memang suka mencomot makanan atau minumanku tanpa izin.
“Apaan sih?” Tanyaku malas-malasan dan menggeser piring makanku ke sudut meja.
“Ih lo tuh ya, penasaran dikit kek. Nih semalem ada tiga cowok yang nanyain nomer lo gara-gara baca artikel kampus yang majang foto lo. Satu anak sastra, satunya anak sospol dan satu lagi anak antro. Bersyukur lo punya temen anak jurnalis kaya gue, ikutan tenar kan paling enggak,” Cerocosnya dengan penuh semangat.
Entah sejak kapan Dira punya kebiasaan membawa kabar baik tentang cowok-cowok yang tiba-tiba menanyakan nomerku melaluinya. Lama-lama aku jadi curiga, mungkin dia yang mempromosikanku, bukannya para cowok itu bisa langsung bertanya kepadaku?.
“Ah males gue Dir, enggak minat punya pacar.”
“Ih lo itu, dari dulu punya alasan enggak ada kreatif-kreatifnya. Ini antrian laki udah panjang Cit, lo nungguin apa lagi? Tinggal pilih aja lo mau yang mana kan,”
Gara-gara artikel di majalah kampus yang pemimpin redaksinya adalah Dira, tiba-tiba aku jadi mendadak terkenal. Di edisi kemarin, Dira mengulas tentang para mahasiswa kampus yang ikut pertukaran pelajar ke Vietnam selama empat minggu, di situ terpampang jelas profilku, belum lagi edisi beberapa bulan yang lalu yang juga membahas profilku sebagai salah satu enterpreneur muda dan di tambah edisi perdana majalah kampus tahun lalu, wajahku terpampang sebagai covernya, alasannya karena aku high quality jomblo. Dasar iseng Dira itu, Entah bagaimana prosesnya tahu-tahu sudah ada CFC (dan bukan singkatan dari California Fried Chicken) yang merupakan kepanjangan dari Citra Fans Club.
Sudah tidak terhitung banyaknya kiriman bunga atau cokelat atau boneka dari orang-orang yang aku tidak kenal yang terkadang sering kali aku hibahkan begitu saja ke Dira. Cewek lain mungkin sirik berat dan ingin berada di posisiku, tapi aku justru ingin ada yang dengan rela menggantikan aku. Aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam ini.
“Gue males aja ah Dir, enggak minat sama yang beginian. Masih betah ngejomblo,” Ujarku memberi alasan
“Eh lo itu udah bertahun-tahun ngejomblo. Nungguin apaan sih? Masih belum bisa move on dari si Reno yang brengseknya luar biasa itu?”
Aku spontan menutup kupingku. Nama itu layaknya barang haram yang tidak boleh di sebut didepanku.
“Please, bisa gak kita enggak usah nyebut-nyebut nama itu?”
“Iya iya iya nona manis, tapi lo masih keinget dia kan mantan lo yang pacarannya dari jaman SMA? Belum bangkit dari dia kan? Dia aja udah enggak keitung pacaran sama berapa cewek sejak abis dari lo. Lo putus juga gara-gara dia selingkuh sama tiga cewek sekaligus kan? Cewek sekampus pula, enggak professional banget cara selingkuhnya. Yang naksir sama lo kan juga banyak Cit, masa dari segitu banyaknya enggak ada yang bikin lo kesengsem. Kalau lo sendiri gak mau usaha buat bangkit ya selamanya lo bakalan kaya gini terus, enggak guna juga meratapi orang yang udah enggak mikirin kita lagi kan.”
Kata-kata Dira masih terngiang jelas di telingaku. Memang aku sudah cukup lama menjadi jomblo, tapi apa iya semenyedihkan itu menjadi jomblo? Itu memang sudah keputusanku, walau tuduhan Dira yang bilang bahwa aku belum bisa move on dari Reno sejak nyaris dua setengah tahun yang lalu tidak sepenuhnya salah. Bayangkan, kami jadi pasangan ideal waktu itu, berpacaran dari SMA selama nyaris empat tahun. Sampai aku menemukan fakta bahwa dia berselingkuh tidak hanya dengan satu orang tapi beberapa orang sekaligus, dan bodohnya mangsanya adalah mahasiswa dari jurusan lain di kampusku. Berlagak jadi playboy tapi salah mencari mangsa, maklum belum professional sepertinya. Tapi di luar kelakuannya yang menyakitkan hati, sisi baiknya selama kami pacaranlah yang membuatku sulit lupa meski tahu dia brengsek luar biasa. Tapi kali ini kuputuskan untuk maju, dan menghapus bersih semua ingatan soal –dia yang tidak boleh disebut namanya- itu.
Dan disinilah aku, di sebuah kafe kecil langgananku. Duduk bersama Satrio, anak satu kampus dari jurusan SosPol, yang dulu dikenalkan Dira. Sejak ceramah panjang lebarnya akhirnya kuputuskan untuk menerima sarannya, mengikuti kencan buta. Dan ini kencan buta yang kesekian kalinya aku jalani. Kencan buta yang selalu di atur oleh Dira. Aku jadi tak sampai hati untuk bilang tidak tiap kali dia bertingkah seperti ini, sahabatku satu itu memang benar-benar serius ingin mencarikan aku pacar baru supaya aku bisa segera MOVE ON dari si brengsek itu.
Dan beberapa kejadian konyolpun terjadi saat kencan buta, diantaranya kencan bersama Fahmi, anak kedokteran yang bawaannya mobil sport Mazda RX-8 serta beberapa mobil mewah lainnya. Heran juga karena setiap kami keluar mobil yang dipakainya selalu saja berbeda. Sampai pada akhirnya di kencan ketiga kami yang membuatku tidak tahan karena dia bawel luar biasa, seperti dua Dira dijadikan satu. Belum lagi tambahan ucapannya yang selalu memamerkan betapa kayanya dia. Bah, mana tahan aku harus pacaran dengan lagi-laki seperti itu.
Ada lagi Reyhan, anak jurusan sastra Belanda, badannya tegap dan atletis, wajahnya-pun bisa di bilang lumayan, yang waktu itu membawaku kencan ke resto Belanda, setelah memesan menu paling spesial disitu dan ketika akan membayar, dia malah berkilah memberi alasan ‘Dompet gue ketinggalan’. Yah kalau masih sekali atau dua kali mungkin aku masih tidak masalah, tapi sampai kencan ketiga kami dia masih saja memberikan alasan yang sama.
Belum lagi Mario, anak jurusan Teknik Sipil yang macho dan tegap tapi aroma badannya juga tidak kalah luar biasanya. Dan cerita-cerita lainnya hingga akhirnya pilihanku jatuh pada Satrio. Satu tingkat diatasku, mahasiswa SosPol tingkat akhir. Kali ini sudah masuk hitungan ketiga untuk kencan kami. Aku punya satu pakem standar kencan, dimana menurutku batas ketika aku ingin melanjutkan hubungan ini adalah terletak di kencan ketiga.
Sejauh ini orangnya cukup oke, tahu cara memperlakukan wanita, tidak bawel, dan yang terpenting dia bebas bau badan. Kami sudah saling rajin ber-sms-an ria dan mulai menebarkan jurus-jurus ala orang yang sedang pedekate hampir satu bulan. Dari segi fisik, dia tampan, badannya tegap, dan tubuhnya proporsional. Yang aku tahu, dia ini juga tergolong aktivis kampus, pernah menjabat sebagai ketua pecinta alam kampusku. Sejauh yang aku tahu, dia punya satu orang adik. Dia sudah lama menjomblo, dan kami punya cukup banyak kesamaan hobi.
“Eh, minggu ini nganggur gak Cit?” Ujarnya di sela-sela makan malam kami
“Kosong sih, kenapa kak?”
“Ah, masih kaku aja lo, gak usah pake panggil kak segala. Kayak baru kenal aja. Kita ke pantai yuk,”
Aku terlonjak kaget sampai nyaris melongo, tahu saja dia betapa aku sangat mencintai pantai, “Boleh, boleh. Dalam rangka apa nih?”
Satrio tersenyum penuh arti dan menatapku, “Soalnya mau ada Family Gathering Cit. Boleh dong gue ngebawa orang yang spesial buat gue,”
Nah lho, nah lho. Ini sih semacam kode banget. tiba-tiba mendadak jantungku berdebar tidak karuan, dugaanku setelah ini…
“Lo mau gak jadi cewek gue? Mungkin emang kecepetan, tapi gak tahu ya Cit, gue nyaman banget sama lo, dan gue sayang sama lo Cit”
JREEEENGGG JREEENGGGG.
Sebenarnya aku senang luar biasa, dan tanpa pikir panjang kuputuskan untuk mengiyakan ajakannya. Resmilah kami jadi pasangan baru.
“Cieeee, udah punya monyet baru nih lo ceritanya?” Ujar Dira yang langsung menghampiriku di Kampus keesokkan harinya.
“Apaan sih? Masa Satria di bilang monyet,” sahutku
“Ah sensi amat nih pasangan baru. Selamet ya nyet, akhirnya lo move on juga. Gue kirain lo emang udah beneran enggak bisa suka sama cowok lagi nyet.”
“Eh sembarangan lo. Gini-gini gue masih belum minat sama sesama jenis ya.”
“Abis ini gue mau buatin buletin edisi “Couples Campus” ah nyet.”
“Ih ngapain banget sih? Gue bukan seleb non, gak pake publisitas begituan ah, ogah gue.”
“Lo inget gak sih? Lo sama dia itu pernah sama-sama mengisi kolom high quality jomblo dan pasti bakal seru banget kalau sampai ada berita tentang bersatunya duo high quality jomblo ini nyet,” Ujar Dira berapi-api. Aku Cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah sahabatku satu ini.
Pantai Pangandaran siang ini rasanya berbeda dengan yang terakhir kali aku kunjungi. Dulu yang menemaniku adalah Rheno, tapi sekarang ada Satria disini. Kata Dira, Orang baru selalu membawa sensasi baru ternyata memang benar. Kami datang lebih pagi di banding keluarganya, terlalu pagi malah. Satria bilang ia hanya ingin melihat matahari terbit bersamaku. Isn’t that really sweet, huh? Many thanks to Dira yang sudah memperkenalkan aku dengan orang sebaik Satria.
Kira-kira pukul sembilan pagi, sebuah mobil Avanza berwarna silver yang cukup aku kenali platnya, berhenti di dekat tempat kami akan mengadakan Family Gathering. Jantungku berdebar kencang, pintu mobil terbuka dan yang keluar adalah…
“Dek, kok lo lama banget sih?”
“Iya, macet tadi kak, lo aja yang kecepetan, mana sih pacar baru lo?”
Suara yang sudah sangat ku hapal, dan dia adalah RHENO!! Rheno si brengsek yang sudah membuat aku gagal move on berulang kali akibat ulah brengseknya dia. Tadi dia memanggil Satria apa? Kakak?
“Rhe-no?” Ucapku terbata-bata sambil memberanikan diri menatap wajahnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Lho, Kalian Saling kenal?” Ujar Satria kebingungan sambil menatap kami.
“Jadi pacar baru lo Citra bang?”
“Iya dek, eh tapi kayaknya kalian udah saling kenal deh jadi gak usah pake perkenalan lagi ya?” Jawab Satria sambil
tertawa kemudian.
“Kalian adik kakak?” Tanyaku pasrah.
“Iya Hon, aku pernah bilang kan, aku punya adik cowok setingkat sama kamu. Eh enggak tahunya kalian udah saling kenal, kenal dari mana?”
“Tapi kamu enggak pernah bilang kalau adik kamu itu Rheno Aditya dan Rheno juga gak pernah bilang dia punya kakak cowok namanya Satria,” Ujarku panik bercampur lemas.
“Iya dia kan kalau di rumah panggilannya Adit, aku lupa nyebut nama panjangnya. Eh kalian kenal dimana?” Ucap Satria mengulangi pertanyaannya yang belum ku jawab.
“Abang gue kan namanya Satria Ramadiputra, dia dipanggilnya Rama kalau di rumah Cit,” Sahut Rheno tiba-tiba
“Kok bisa kenal sih kalian?” Ulang Satria sambil mengernyitkan dahinya.
Seketika itu aku lemas dan menghembuskan napas panjang. Satu-satunya yang harus disalahkan adalah Dira! Aku ralat ucapanku tadi.
Sial kalau begini jadinya bagaimana aku bisa Move on kalau harus terus bertemu dengan Rheno?
Cerpen Karangan: Zhea
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis,

0 comments: